Jakarta, 5 September 2018 Bisakah kita menjaga jika sudah tidak ada rasa? Bisakah kita bercerita jika sudah tidak ada cinta? Karna bercinta pun tidak harus dengan cinta Akankah kita terluka jika sudah tidak ada suka? Akankah kita tersakiti jika sudah tidak ada peduli? Lalu mengapa mengasihi sesuatu yang sudah usai? Lalu mengapa kembali jika sudah memutuskan pergi? Jika berpisah adalah jalan, Kembali bukan pilihan Jika masih ingin bersama, mengapa harus berpisah? Jika memang ingin berpisah, mengapa masih bersama? Karena sejujurnya, rasa tak akan pernah padam. Ia hanya karam dan tenggelam. Dan kadang yang sudah pudar Kembali ke permukaan dengan sapaan “apa kabar?” Hidup kadang selucu itu… Kembali ke permukaan bukan berarti kembali mengarungi bersama, Kadang hanya memori yang kembali hangat membara. Karena kami adalah manusia. Selayaknya kami mencintai Tuhan, namun tetap melakukan dosa Kami pun mungkin akan mendua, walau tetap me...
Postingan populer dari blog ini
my brothers
beberapa waktu yang lalu gue pernah posting tentang "Sister another parents" dan sekarang gue mau posting tentang "Brothers another Parents", kali ini mereka bukan sekedar sahabat tapi mereka ini memang keluarga dan seorang kakak yang sangaaaat baiiiik. malah gue pernah lebih nganggep mereka kakak dibanding kakak kandung gue sendiri. and here they are : Ipung Budianto Barnadus S.Pd Kak Ipung, awal gue kenal sama dia tuh pas gue kelas 1 SMP, saat itu gue sering ikut kakak gue ngumpul sama temen-temennya dan kenal lah gue sama dia. Dia ini pacarnya kakak gue (dulu). mereka pacaran sekitar 3 tahunan lah. saat mereka masih pacaran, gue mulai deket lah sama manusia ini, dia orangnya kocak sumpah tapi becandanya kasar (bukan fisik, tapi kata-katanya nyelekit bahkan SARA) tapi itu yang bikin ngakak, dan lama kelamaan gue ketularan selera humornya dia, tapi gue tetep pilih-pilih orang buat humor seperti ini, soalnya bisa-bisa bikin orang sakit hati. Bisa dibilang orang i...
Hukum Newton Ketiga disambut Menunggang Badai, Barasuara
Malam itu, gue mengendarai motor gue seorang diri menuju suatu lokasi. Kondisi jalanan cukup sepi, hanya ada tiga motor dan satu mobil sejauh mata memandang. Seperti biasa, gue mengendarai motor dengan menggunakan headset untuk mendengarkan lagu. Saat itu lagu yang terputar adalah Menunggang Badai milik Barasuara, terbesit lirik yang cukup ngebuat otak gue mengembara entah kemana sementara mata dan tangan seperti autopilot “di dalammu dendam parah bersarang, perih mencekam, pedih bersulang, lara bersarang. Dalam peraduan dendammu melagu, dalam perasaan diammu memburu, dalam kesunyian gerammu bertalu” Otak gue kembali ke masa-masa paling menyakitkan (di hubungan yang sekarang), rasa terbohongi, rasa diabaikan dan tidak dianggap, rasa diduakan dan dilupakan. Setiap conversation entah chat atau kata yang terucap terekam jelas dan itu berulang lagi bagai recorder tape di otak gue. Gue menelan ludah dan menggertakan rahang, berusaha mengatakan ke diri gue sendiri “ I’m fine ,...

Komentar
Posting Komentar