3 Mei 2015

Harapan

Semua orang butuh harapan. Untuk bertahan hidup, untuk memperjuangkan hidup, semua ada harapan. Sesuatu yang gak bisa dibuktikan secara harafiah, tapi kita mempercayainya.

Begitu juga gue, di tahun 2015 ini begitu banyak harapan, mulai yang sudah terwujud, belum terwujud dan tidak terwujud sama sekali. Bisa dibilang dua harapan gue di tahun ini adalah, bisa punya jam tangan lagi dan pergi Gombong untuk nyekar, dan dua-duanya gue lakukan dengan jerih payah gue sendiri, wow! Walau jam tangan bukanlah jam tangan yang mewah yang berharga ratusan ribu hampir jutaan, setidaknya itu cukup lucu, dan walaupun ke kebumen menghabiskan banyak biaya, dan sekalian berlibur ke Jogja, gue gak nyesel, itu seru, asik, perjalanan pertama gue tanpa orangtua atau organisasi, dan bisa dibilang, gue kangen Jogja dimalam hari.
Harapan yang belum terjadi tapi gue yakin akan terjadi adalah, gue akan lulus sebagai sarjana tahun ini, punya penghasilan sendiri, kerja kantoran, dan liburan. Gue percaya itu akan terjadi tahun ini.
Sementara harapan yang sudah pasti tidak terwujud adalah, gue lulus sebagai sarjana dibulan Mei, gue punya penghasilan di bulan Mei, gue liburan dibulan Mei, gue ngadain syukuran dengan dana pribadi gue sendiri di bulan Mei, gue bakal traktir temen-temen deket gue di bulan Mei. Itu yang pasti gak akan terjadi.

Marah? Iya. Kesel? Iya. Sedih? Iya. Kecewa? Banget!

Hampir sebulan gue berusaha agar semuanya terjadi di pertengahan tahun ini, tapi itu gak akan terjadi. Kenapa? Sebagai manusia, mungkin lebih mudah menyalahkan orang lain atau keadaan, itu yang gue lakukan, tapi gue sadar niat baik akan berakhir baik, sementara niat buruk akan berakhir buruk, dan sepertinya niat gue gak sepenuhnya baik. Setelah dipikir-pikir, kalo semua itu berhasil dibulan Mei, bisa betapa sombongnya gue? Dan berfoya-foya serta bermabuk-mabukan di hari spesial? Bukan hal yang baik, setidaknya secara agama itu tidak diperbolehkan, jadi kenapa berdoa demi sesuatu yang tidak diperbolehkan? 
Lagipula, gue gak pernah dididik untuk berfoya-foya, selama hampir 21 tahun gue hidup, hanya ada 3 kali pesta, tapi jangan harap itu pesta dengan gaun princess atau acara tiup lilin dengan kue Barbie beserta para manacin nya, atau ruangan penuh balon dan soundsystem. Pesta pertama itu saat gue masih kecil, 5 tahun mungkin, saat itu kita merayakan ulangtahun dip anti asuhan, hanya potong tumpeng, bagi-bagi nasi box dan berdoa bersama, seenggaknya itu yang ada di foto. Pesta kedua saat gue umur 8 tahun, gue merengek sejadi-jadinya untuk bisa bikin pesta kaya temen-temen di SD lainnya yang pestanya di KFC atau McD, tapi nyokap hanya mengadakan pesta di kelas, hanya makan bersama dikelas. Dan mulai saat itu gue tau kenapa ‘berkumpul’ dan ‘makan’ adalah hal yang paling penting daripada pesta megah dan meriah, dan itu menagapa gue menganggap makan itu ritual yang intim, entah itu makan siang, apalagi makan malam. Entah itu di warteg, fast food ataupun restoran.
Pesta terakhir adalah saat umur 17 tahun, saat itu gue juga merengek minta diadakan pesta, setelah melihat pesta yang disiapkan nyokap untuk kakak gue di ulangtahunnya ke 21. Kalo ada yang bilang seorang Taurus adalah orang yang paling jealous-an, bahkan tingkat jealous nya bisa 100%, mungkin benar, gue terlalu jealous dengan hal-hal kecil, dengan perhatian-perhatian kecil dari orang terdekat gue tapi bukan ditujukan ke gue. Di ulangtahun ke 17, gue mengundang semua temen SD-SMA gue untuk sekedar makan bareng dirumah, tanpa ada acara tiup lilin atau apapun itu, kita hanya mengobrol, minum sedikit dan nginep rame-rame, cukup hangat saat itu.

Jadi setidaknya gue berfikir alasan gue gagal meraih harapan gue adalah…
karna Ia tau bahwa gue belum siap, bahwa gue mungkin bisa jadi orang yang lupa diri atau mungkin karna Ia tau kalo gue bisa saja menjauh dari jalan-Nya dan Dia terlalu sayang untuk membiarkan gue menjauh. Setidaknya gue menerapkan apa yag nyokap gue ajarkan, duduk, berkumpul, makan bersama, tertawa bersama, mengobrol bersama, bukannya duduk mabuk-mabukan menghabiskan uang dengan orang-orang yang belum tentu tulus.

Dan seperti anak-anak lain yang selalu punya wish untuk ulangtahunnya, gue Cuma pengen doa yang tulus, bukan doa formalitas yang biasa diucapkan orang-orang saat bertemu atau lewat video/voicenote atau disetiap pesan singkatnya. Tolong doain gue aja supaya apapun rencana-Nya, bisa gue terima dan gue kuat menjalaninya.

21 tahun, ya, gue sudah tua dan menyebalkan.

But as I always said, my meaningful, cheerful, wonderful birthday was my 18, my first surprise, and my best gift. Even we always fighting, and our words so harsh and hurting each other, and  act like we don’t need each other. I never feelin bad when I blow the candle that night.

Seharusnya setelah gue tiup dua lilin itu, gak usah dinyalahin lagi salah satunya, soalnya  gue pasti akan meniupnya lagi dan lagi. Ya, lilin itu pasti akan selalu mati sebagai tanda dari semua jawaban gue.

2 Mei 2015

Sekarang pukul 03:58 A.M, beberapa menit yang lalu gue kebangun dan kabar dari HP membuat mood gue makin berantakan.

Disaat gue mulai mengalihkan perhatian dengan ‘obat penenang’ dan malah ketagihan untuk beberapa waktu ini, ya untuk beberapa waktu ini gue bisa gak memikirkan apapun, apapun, hal yang paling gue benci sekalipun bisa gue abaikan karna keasikan baru gue, tapi…
Setelah gue mati-matian berusaha berenti dari aktivitas yang bikin gue gabisa tidur, gak bisa main game, gabisa makan dan hanya duduk depan youtube, dan gue bertekad kembali dari pelarian gue itu… hal itu datang lagi, hal yang paling gue takuti hingga gue benci, dan tak seorangpun bisa menaha gue mengkhawatirkan itu.

FCK!
      
Terkadang kita mati-matian melanggar janji yang kita buat pada yang lain hanya untuk satu orang spesial yang mati-matian mempertahankan janjinya pada yang lain. terkadang hidup bisa seaneh dan setidak adil itu.




Tapi siapa yang menyuruh kita untuk berpikiran itu akan adil?





mungkin harus gue mulai kembali, membiarkannya mengalir tanpa melawan... welcome next film...

Dia, kembali lagi...

Segala sesuatu yang kita tinggalkan dibelakang bisa saja sewaktu waktu datang menghampiri kita lagi, karna kita punya jejak, jejak yang bisa ia ikuti. 
Sama kaya gue yang bilang “Orang kaya lo bisa berubah? Sifat bisa berubah seiring kedewasaan lo, tapi naluri gak bakal bisa diubah. Kalo udah naluri player ya player aja” ke seseorang 8-9 tahun lalu, dan ternyata dia berubah 2 tahun kemudian, tapi saat tahun 2010 gue ketemu dia lagi, emang nasib gue jelek sama dia, dia sama sekali gak berubah sekeras apapun ia berusaha, ia pasti kembali ke nalurinya. Sama aja kaya beberapa hari ini banyak yang nanya, “Kok lo jadi suka nonton korea sih?”, “Kok lo tidur pagi, bangun sore mulu sih?”, “Kok lo betah dirumah mulu sih? Bukannya lo paling gak betahan” ya banyak lah yang nanya ini itu. Gue Cuma mau bilang, inilah gue dengan zona nyaman gue. Kalo lo semua tau masa kecil gue, gue dulu sangat menyukai berbagai macam jenis film, film cartoon, film action, film drama, film horror dan comedy, gue dan nyokap juga suka banget nonton film series, kaya the dolphin bay, twins atau Korean drama lainnya, kenapa? Karna menurut kita drama mereka bener-bener pake perasaan, gak dibuat-buat kaya sinetron Indonesia yang cuma ngejar rating. Semakin dewasa, gue lebih menyukai film barat, lebih pada ketertarikan fisik. Ya, badan tegap tinggi, dengan sedikit otot, kulit putih, mata biru atau abu-abu, rambut pirang, hidung mancung, bibir tipis, siapa yang gak tertarik? Apalagi dengan kehidupan mereka yang kontak fisik sangatlah lumrah, asik. Tapi saat ini, saat gue lagi muak dengan film-film senada, gue kembali ke drama korea yang menyentuh dari sisi cerita, bukan fisik. Lagipula, gak mungkin kan kita menerapkan drama dikehidupan nyata, jadi setidaknya gue bisa merasakan drama dari film-film itu. Dan seperti semua orang tau, gue emang gak bisa diem dirumah, tapi gue bisa diem lama dikamar, ditempat yang gue nyaman walau keberantakan apapun itu. Dan gue juga tipe orang yang susah bangun pagi.

Semua orang bilang “Lo harus keluar dari zona nyamannya lo kalo lo mau sukses”, dan gue udah lakukan itu, setiap gue mulai merasa nyaman, gue mencari sesuatu yang lebih menantang-menantang dan menantang lagi, tapi apa salahnya untuk saat ini gue diem di tempat nyaman gue, hanya untuk beristirahat dan merasakan apa yang sudah gue lewati? Sebentar saja sebelum memulai lagi semuanya?


Sama seperti film-film yang sudah gue habiskan tentang pembisnis, dokter, pengacara, anak sekolah ataupun polisi. Mereka awalnya tidak pernah niat dan hanya menjalankan hidupnya, sampai suatu kejadian membuat mereka tau tujuannya dari profesinya. Walau itu hanya sebuah film dari karya manusia, gue yakin hidup kita juga kaya potongan-potongan film itu yang ditulis sendiri oleh Tuhan.

19 April 2015

Hai hai kita berjumpa lagi nih, ya map ya namanya juga pengangguran jadi terlalu banyak waktu luang kan, tapi please jangan tanya tentang skripsi gue, dia lagi gak mau diganggu, mungkin lagi ada masalah pribadi jadi gue berbesar hati untung meninggalkan dia sendiri dulu, lo tau kan setiap orang kalo lagi ada masalah butuh ditingal sendiri dulu..

Gak, gue lagi gak ada masalah, lebih tepatnya sedang berlatih mengontrol emosi, mungkin itu yang orang-orang dewasa lakukan, walaupun hancur harus tetap tersenyum, walaupun marah dan berapi-api harus tetap dingin. Dulu sih gue jagonya kalo disuruh mendem emosi, mendem ya bukan mengendalikan. Semua gue pendem sampai disatu titik yang gak gue kuat dan keluar semua,  rasa sakit, sedih dan marah, tapi seringkali gue salah melimpahkannya, untung aja orang-orang disekitar gue sangat cukup mengerti gue. Sampai akhirnya gue iri dengan orang-orang yang bisa dengan gampang mengeluarkan isi hatinya, mereka yang spontanitas, mereka yang tampa tidak pernah membatin, dan sedikit demi sedikit gue mencoba itu atas saran seorang teman, dan ya memang lebih baik, jauh. Disaat marah, kesel, sedih maupun terharu, kita menangis (maklum cewek) tapi sampai satu titik seseorang mengatakan itu kekanak-kanakan dan menuntun gue untuk lebih mengontrolnya. Awalnya gue kembali memendamnya dan meledak setiap saat itu sudah sampai batas, tapi sekarang ya gue belajar untuk mengendalikan, gue berusaha berfikir dari sudut pandang lain yang memungkinkan itu ada nilai baiknya, ya walaupun ada yang bilang positif thinking sama bohongin diri sendiri beda tipis sih, tapi anggap aja itu baik, cara lain ialah pengalihan perhatian, ya gue jadi jauh lebih sibuk nonton film, main game dan nulis disini, iya ini salah satu pengalihan perhatian gue dan gue berusaha menghormati, apapun, seperti yang gue tulis di post sebelumnya.

Gue jadi inget salah satu quotes dari film yang sempet gue nonton, maknanya sih gini 
“kita semua hidup didunia dan ingin menguasainya, tapi cara kita berbeda-beda, kamu harus menjadi orang nomor satu di dunia barulah merasa memiliki dunia, sementara dia (adiknya) hanya dengan memiliki dan bersama cintanya, ia sudah memiliki dunianya”. 
Gue gak akan membahas cinta-cintaannya, tapi ya semua orang punya perspektifnya sendiri, passion nya sendiri di dunia, jadi satu-satunya cara untuk tidak men-judge adalah dengan berfikir dari perspektif lain dan mencoba memahaminya… walaupun sulit.

Kahlil Gibran pernah bilang, dalam hidup berdirilah sama rata, namun jangan terlalu dekat karna pilar-pilar candi dibuat tidak terlalu dekat satu sama yang lain. Tapi ditempat lain gue pernah baca, kita diciptakan berpasangan bukan hanya sebagai rekan kerja dalam kehidupan yang berjarak sejauh jabatan tangan, kita diciptakan untuk saling menopang, dan menutupi kelemahan satu dengan yang lain, jika kamu sudah sangat sempurna untuk berdiri sendiri, bukankah kamu mampu tanpa temanmu, keluargamu, pasanganmu dan Tuhanmu?

Tapi yang gue dapatkan akhir-akhir ini adalah pelajaran dimana sesuatu yang membuat kita bergantung itu menyakitkan. Dan mereka menyuruh gue untuk seperti burung-burung itu, yang walaupun membutuhkan pohon untuk berteduh, bersandar dan menaruh sangkarnya, ia mempunyai sayap yang dapat ia pakai sewaktu-waktu pohon itu jatuh dan meninggalkannya.


So what make you addicted? Some people called its passion, some people said its love, sweet, but what I know obsession is addicted too, isn’t true? So what are we? We are people who need each other, but what are we in this world? Just a nature instinct as a human? Just a business? Obsession to each other? Or love?

maybe its seems different, but for long time, its seems same.

18 April 2015

everybody has a secret, respect that

Rahasia…

Sekali lagi ini bukan karna gue keseringan nonton film fiksi yang harus merahasiakan jati dirinya sendiri, ini tentang kehidupan nyata. Sebagai manusia pasti lo punya rahasia kan? Pasti! Entah yang lo simpen bersama teman-teman terdekat lo atau yang lo simpan dengan baik sendiri.

Gue tipe orang yang sangat teramat sulit menjaga rahasia sendiri, gue biasanya berbagi dengan teman terdekat atau orang yang paling gue percaya. Dulu, gue sangat merahasiakan tentang background keluarga gue, sampai akhirnya gue menceritakan pada orang yang sangat paling gue percaya banget sekitar 2,5 tahun yang lalu. Kenapa gue rahasiakan? Karna gue malu untuk mengakuinya, tapi dengan dia, orang yang paling gue percaya, gak ada lagi rasa malu itu, karna gue menganggap dia akan menerima gue apa adanya. Ada juga beberapa rahasia-rahasia kecil yang hanya gue ceritakan pada temen-temen satu geng, bagaimana tingkah bodoh gue saat galau, saat di pdkt-in gebetan, saat di cengin di dalam kelas karna di godain asdos, saat ditembak, saatberantem sama pacar, saat bikin conference buat ngomongin suatu masalah, saat main kucing-kucingan, dan saat melakukan kebohongan-kebohongan kecil. Ya, mereka tau semuanya. Tapi gue gak seterbuka itu, ada beberapa rahasia yang gue pegang teguh sendiri, bahkan kadang gue gak menganggapnya ada. Kenapa? Malu, mungkin. Takut, bisa jadi.

Dulu, gue orang yang sangat cuek dengan sekitar, sampai nyokap gue bilang gue egois dan antisocial. Semakin bertumbuh, gue menemukan satu sampai dua orang yang sangat care dan berani menceritakan aib nya sendiri yang gak pernah dia ceritakan ke orang lain selain ke gue, dan berkat mereka gue berani untuk menceritakan beberapa yang gue punya, membangun sebuah kepercayaan. Kenapa ke gue? Mereka sih bilangnya karna gue bukan tipe orang yang ngurusin hidup orang lain dan sangat liberal jadi mereka berani, padahal mah gue kepo juga, gue kepo ke beberapa orang yang pasti mempunyai pengaruhnya untuk gue, setidaknya kalo mereka terlibat criminal, pasti gue kena karna dia salah satu orang terdekat gue. Awalnya gue akan mengira-ngira, tingkat kesensitifitasan gue bertambah sampe gue kayanya tau, trus gue tanya, dan kalau ternyata dia mengelak atau bohong, gue akan mencari tau dengan cara lain, jujur aja, kami para cewek ahli dalam hal itu. Sampai akhirnya gue sadar, semua manusia punya rahasia, sekalipun terhadap orang yang paling dikenalnya, didekatnya ataupun dipercayanya. Sama dengan dia, dan mereka, gue pun juga. Kita hanya ingin dihargai, dengan memberitahu rahasia kita ataupun tidak.  Dan mulai saat itu, gue mulai menghargai setiap segala sesuatu yang dirahasiakan dari gue, gue mulai menghargai segala sesuatu yang mereka tutupi dari gue. Gue berusaha untuk gak kepo, hanya menunggu waktu hingga mereka bisa jujur dan membagi rahasianya pada gue, sama seperti apa yang gue lakukan ke orang-orang yang sangat gue percaya. Terbuka. Dan jujur.

Gue berusaha untuk membagi satu persatu yang gue punya, saat mereka sudah membaginya ke gue. Teman baik gue tau itu, ya dia salah satunya, kita terlibat pembicaraan mendalam berdua, kita benar-benar membagi masa lalu satu sama lain, dan saat itu gue merasa bahwa gue gak sendiri, ada yang kisahnya pun sama dengan gue dan sisterhood pun terbangun. Dia selalu berusaha membantu gue dengan semau kelemahannya, dan gue berusaha membatu dia dengan segala keterbatasan gue.




You give me one story of yours, I’ll give you mine…

8 April 2015

TULUS

Tulus… apa itu ketulusan?

Sebagian orang mengatakan tulus itu memberi tanpa mengharapkan apapun, sebagian lagi mengatakan tulus itu fana.

Banyak yang bilang kasih seorang ibu itu sangat tulus, tapi ada juga yang bilang kasih seorang ibu pada anaknya itu seperti menanam pohon, ia merawat, memupuknya dan menyiramnya hingga tumbuh besar agar suatu hari ia bisa duduk dengan teduh dibawah pohon itu, sementara pohon itu tetap menjalankan tugasnya dibawah teriknya sinar mentari yang menjadikan daun-daunnya kering dan berguguran.

Banyak yang bilang kasih sesama saudara itu tulus, tapi ada juga yang bilang itu hanya seperti merawat anak anjing yang setelah besar bisa menjaganya, berdiri paling depan untuk melindunginya, atau mengigit tuannya sendiri jika kasih itu salah diberikan.

Banyak yang bilang kasih seorang kekasih/pasangan yang paling tulus, jika ia tulus, mengapa ia masih menuntut? Mengapa ia begitu posesif dan cemburu? Mengapa ia selalu menjadi prioritas dan dominan? Dan mengapa harus diikat dengan komitmen?

Dan sebagian orang mengatakan kasih seorang sahabat adalah yang tertulus, sampai saat ini aku setuju walau tidak seratus persen, tapi hanya mereka yang tidak terikat komitmen ataupun darah denganmu, hanya mereka yang mampu pergi sesuka hatinya namun tetap memilih untuk disana saat kamu ada kesulitan, walau mencari sahabat yang baik tidaklah mudah dan cepat, butuh proses dan kegagalan berkali-kali. Sahabat tidak harus sejenis atau lawan jenis, kita bebas menentukannya, dan jika kamu menemukan sahabat lawan jenis, berhati-hatilah dengan ketulusannya. Jika sahabat itu tulus, mengapa mereka bisa jatuh cinta dan berharap lebih dari sahabatnya sendiri? Mengapa mereka tetap berusaha walau ia tau sahabatnya sudah (at least berfikir) bahagia dengan pasangannya? Haruskah persahabatan itu menghilang atau terbatasi?


Jadi adakah yang tulus di dunia ini?


Setidaknya berusahalah jadi orang baik, menjadi lilin dan air yang tenang dan membawa kehidupan di dunia yang sudah hancur ini, walau ketulusan sudah tidak ada lagi.




THE WORLD IS FULL OF NICE PEOPLE. IF YOU CAN’T FIND ONE, BE ONE

-NISHAN PANWAR

16 Februari 2015

Valentine's day

Happy Valentine guys…

Pas banget bukan valentine kali ini jatuh di hari Sabtu, it means malem minggu. Gimana valentine kalian? Romantic kah, sweet kah, mewah kah, sederhana kah, sekalian anniversary kah? Banyak loh, ada beberapa temen gue yang valentine kemarin merupakan 1st year anniversary nya, wow! Atau kalian berdalih tidak merayakan karna bingung merayakan dengan siapa, hahaha. Valentine gak harus sama pacar loh. Temen gue contohnya, mereka merayakan malam valentine hanya dengan makan es buah rame-rame, dan cowok semua, what a sweet moment kan.
Gue salah satu orang yang suka merayakan hari-hari penting just like valentine, mother’s day, father’s day, birthday, anniversary, or ladies night maybe #eh.
Saat mother’s day dulu gue belikan nyokap bunga, sampai gue liat bunga itu dibuang dan gue gak pernah beliin bunga lagi. Gue beliin cup cakes, dan gak dimakan. Gue bukan tipe pendendam tapi gue cewek normal yang suka mengingat-ngingat moment, dan itu moment yang cukup menyakitkan dan bakal gue inget terus.
Saat valentine, gue selalu nabung untuk beliin nyokap, kakak dan sabahat gue coklat edisi valentine, sampai hanya gue yang ngasih dan gak ada seorang pun yang balik ngasih. Padahal seperti yang kita tau, apa yang kita perbuat untuk seseorang, kita berharap orang itu membalas yang serupa, ya kan? Tapi semua bulshit!

Saat itu gue gak pernah merayakan valentine lagi, sampaaaaiiii…

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, saat itu gue kelas 1 SMP, sangat bocah. Saat itu bel istirahat pertama baru bunyi dan kita semua berhamburan ke kantin lewat pinggir lapangan sisi luar, soalnya di sisi dalem lagi rame anak SMA yang mau berangkat live in. saat itu tanggal 13 Februari, belum valentine. Dan saat gue bersama temen temen gue lewat, dari sisi sebrang lapangan, seorang cowok sendirian dating nyamperin dan hamper dilihat oleh seluruh anak SMP dan teman seangkatannya, dia nyamperin gue dan memberikan sekotak kado, bentuknya kaya kotak jam. Salting? Iya, bukan karna gue suka orangnya, Cuma tingkahnya yang buat sorak sorai cie ciean terdengar keras. Satu kaliamat yang kayanya dia sampeein (udah lupa juga sih) “sorry duluan mau live in soalnya”.
Gue bukan ‘the most wanted girl’ di sekolah gue, gue gak famous, gue gak cantik, gue bukan dancer, gue Cuma cewek dekil yang doyan keringet keringetan dibawah matahari buat main basket dengan rok ampir kaya anak madrasah padahal yang lain berlomba-lomba buat diatas lutut. I’m nothing, but that moment makes me feel something. Dan lo bertanya, apa dia jadi pacar gue? Enggak. Kenapa? I don’t know, dia bikin gue merasa special, tapi gak klik aja pas lagi bareng dia, lagi pula tau apa anak kelas 1 SMP tentang berpacaran? Just status, no more.


Setelah itu barulah gue merasa valentine valentine selanjutnya gak sebasi dulu. Tahun selanjutnya, saat gue menjabat OSIS, kita membuat acara ‘Secret Admirer’s Day’, semua secret admirer bisa menaruh surat cintanya di kardus di depan ruang piket, dan nama-nama yang mendapat surat dan coklat diumumkan di papan pengunguman dan diharpakan mengambilnya saat pulang sekolah. Dan walaupun hanya satu, tapi I got it, gatau dari siapa yang pasti adik kelas, dan setelah usut punya usut adalah sahabatnya orang yang deket sama gue, what a…

Tahun selanjutnya gak ada coklat ataupun surat, tapiiii someone tell me that he wanna be my boy in cinema and give me a pair of tali sepatu snoppy yang dulu ngehits banget. Even I don’t have a special feeling to him, a special things makes me awkward and blast. Gue memang gampang terbawa suasana, tapi anak kelas 3 SMP saat itu, saat itu gue terlalu sibuk sama PM, les privat, les bimbel, les bahasa inggris. Fuck life lah.

Tahun selanjutnya, tahun senior. Dan you know, itu pertama kalinya gue dikasih boneka dari ade kelas yang emang jadi inceran para kakak kakak kelas. Seneng? Bangeeet! Dua boneka tupai kecil, iya kecil Cuma dari timezone sih tapi that’s sweet. Secara tiba-tiba ada di laci meja kelas gue. Tapi gak lama setelah itu, bonekanya gue kasih ke temen gue, gue taro aja di mobilnya, bukan karna gak suka, tapi gue gak biasa nyimpen pemberian orang yang udah bukan siapa siapa gue.

Tahun selanjutnya gue lupa tapi sepertinya tidak terjadi apa apa makanya gue gak inget apa-apa. Yang gue inget di tahun selanjutnya lagi, tahun paling senior yang paling seru. Kita satu kelas tukeran coklat, tapi bukan sembarang coklat atau coklat coklat mahal, kita harus bersusah payah nyari coklat ayam, coklat payung, coklat koin, coki coki, superman dan coklat-coklat peninggalan jaman SD dulu. Wow. Disini kebersamaan kerasa banget nget nget nget!

Masuklah gue ke dunia perkuliahan, dan saat itu kalo gak salah jatuh di hari minggu, saat itu gue lagi makan sekeluarga di Pizza Hut, dan tiba-tiba dia dateng dengan seplastik boneka beruang pink yang cukup besar dan memberikan itu. Malu? Iya. Seneng? Banget! (saat itu). Semua mata tertuju ke gue, ada yang senyum semeringah, ada tatapan iri, dan bagi cewe, tatapan iri dari orang lain itu hal yang sangat wah makanya banyak orang yang mesra mesraan di depan orang lain hanya untuk terlihat bahagia dan membuat iri orang lain, itulah cewek.
Kalo kalian nanya kemana boneka itu? Udah disumbangkan ke orang yang lebih membutuhkan, gue gak butuh lagi, bukan gak butuh bonekanya tapi gak butuh kalo ‘dia’ yang ngasih.


Dan masuklah pada valentine 2014, valentine pertama bersama orang yang paling berarti banget. Bagaimana kesannya? Dunno. No chocolate, no flower, no poem, no cute doll, no romantic dinner, just like this valentine. Tapi, tahun lalu itu termasuk paling sweet yang gue alami. Si dia udah ada janji untuk dateng diacara ‘open house’ sebuah rokok, dan dia pengen banget dateng tapi gue gak mau, soalnya beberapa hari yang lalunya gue dateng disitu bener-bener dikacangin, ampir 3 jam gue ditinggal gitu aja di tempat yang menurut gue asing, dengan tanpa ada satu orang yang gue kenal, disitu gue bener-bener kesel, sebel, gondok, benci banget makanya pas diajak lagi kesana gue gak mau walaupun dia bilang ‘sebentar’ tapi gue gak mau. Dan dengan setengah hati mungkin, ia membatalkan janjinya dan lebih memilih untuk window shopping and simple dinner sama gue. That’s the sweetest thing ever. Membatalkan kesenangannya hanya untuk lo? Berarti lo lebih dari ‘kesenangan’nya. Loveyaboy!

And yesterday. So something new for me, gak romantic, gak puitis tapi I love some words the most. Apa something new nya? Apa some word nya? I don’t speak it now

Intinya cewek akan selalu menjadi cewek dengan ‘girly’ nya seberapa boyish nya dia. So treat them like a princess, so you will treated like a prince. Give them sweet things and she will respect you more.


Trust me, it works!