15 April 2014

DIA

Kali ini gue mau nulis secara global, gak subjektif seperti biasanya, gue gak akan menunjuk satu orang sebagai objek penulisan gue. gue akan menyebut objek itu dengan dia.
Dia yang gak gue sebut siapa, entah she or he, entah orang tua, sahabat, teman dekat, sekedar teman nongkrong atau pacar atau gebetan atau hts-an, terserah kalian mau anggap dia itu siapa.


Gue cuma mau bilang, dalam hidup kita pasti ada satu orang yang paling mempengaruhi mood dan hari-hari kita, orang yang paling mempengaruhi keputusan yang akan kita ambil, orang yang paling mempengaruhi pandangan kita tentang hidup itu sendiri. Dia, bisa berada di rumah, di sekolah, di kampus, di kantor, di tongkrongan atau dimana saja dia berada walau jauh beribu-ribu kilometer dari kita, kita pasti bisa merasakan pengaruhnya, seakan kita dan dia mempunyai hubungan plus minus magnet yang besar yang pergerakkannya selalu mempengaruhi gerakan sisi satunya.


Dia-nya gue itu seseorang yang gue anggap sebagai pahlawan kedua gue, orang yang selalu gue cari saat gue mau membagi kebahagiaan dan tawa, orang yang gue harap menyediakan bahunya untuk gue bersandar dititik dimana gue merasa dunia gak adil, orang yang selalu ada di setiap perjuangan hidup gue, orang yang selalu meringankan beban-beban hidup gue, orang yang selalu mengajarkan gue berlari disaat kaki sudah tidak mampu melangkah lagi. 

Dia gak seperti pop mie yang instant, dia selalu mengajarkan proses serta memperlihatkan progress. 

Dia tidak selalu ada, tapi dia selalu memperhatikan dan selalu sigap saat saat ia tau gue akan jatuh atau terpleset.

Dia bisa menjadi siapapun dalam hidup gue yang gue butuhkan, yang masih ada ataupun yang sudah gak ada, bahkan yang gak pernah ada, tapi dia bisa.

Dia yang mengajarkan tentang perjuangan hidup, tentang arti pertemanan, tentang arti hidup, tentang pentinganya bersyukur, tentang terang dan gelapnya dunia, tentang cinta kasih dan logika, dan tentang orang-orang yang bisa dipanggil keluarga.

Dia yang selalu melindungi gue dari orang-orang busuk berwajah manis, mengajarkan bagaimana menjaga diri dan menghindari orang-orang licik ini.

Dia juga yang mengenalkan gue pada sisi lain dunia, sisi gelap yang belum tentu hitam, serta sisi terang yang belum tentu putih, ia mengenalkan yang terlihat busuk belum tentu jahat, dan yang terlihat manis belum tentu baik.

Dia yang tidak memanjakan gue dengan segala fasilitas dan materinya tapi memberikan yang lebih dari yang bisa dihitung nilainya, waktu, pengalaman, hati, pikiran, perhatian, nasihat-nasihat yang sangat menentukan hidup gue harus dibawa kemana.

Dia yang selalu berusaha memberikan diamond walau berada di kedalaman lumpur.

Dia yang udah gue anggap bagian dari diri gue.

Dia sempurna dengan ketidaksempurnaannya, Dia indah dengan segala luka-luka hidupnya, Dia orang ter-gentle kedua yang gue temeni dihidup gue.


terlalu banyak yang gue rasakan saat kata-kata Dia terlintas. Terlalu sedikit kata untuk menggambarkan gejolak-gejolak rasa. Yang pasti Dia bagian hidup gue yang hilang.


"AKU MENGUCAP SYUKUR KEPADA ALLAH-KU SETIAP KALI AKU MENGINGAT KAMU" (Filipi1:3)


Dia
MALIQ & D'ESSENTIALS 

Temukan apa arti di balik cerita
hati ini terasa berbunga-bunga
membuat seakan, aku melayang
terbuai asmara


adakah satu arti dibalik tatapan
tersipu malu akan sebuah senyuman
membuat suasana, menjadi nyata
begitu indahnya


dia seperti apa yang selalu kunantikan, aku inginkan
dia melihatku apa adanya seakan ku sempurna


tanpa buai kata tercuri hatiku
dia tunjukan dengan tulus cintanya
terasa berbeda, saat bersamanya
aku jatuh cinta


dia seperti apa yang selalu kunantikan, aku inginkan
dia oh dia melihatku apa adanya seakan ku sempurna
dia seperti apa yang selalu kunantikan, akuinginkan
dia melihatku apa adanya seakan ku sempurna


dia bukakan pintu hatiku yang lama tak bisa
percayakan cinta hingga dia disini
memberi cinta ku harapan


dia seperti apa yang selalu kunantikan, aku inginkan
dia melihatku apa adanya seakan ku sempurna
dia seperti apa yang kunantikan, aku inginkan
dia dia melihatku apa adanya seakan ku sempurna


give me your love
give me your love now
so come on and love me
come on and love me

20 Februari 2014

kuli-ah

haiyaaaa, udah lama banget gak nyentuh dunia per-blog-an, bukan karna gak ada waktu, bukan karna sibuk kuliah tapi karna google gue sempet error, jangan tanya kenapa errornya, gue bukan anak IT, gue anak ekonomi jadi silahkan tanya update IHSG terbaru ke gue. Faklah!

Awal tahun 2014, semester 6, tadinya gue kira semua bakal berbeda tapi ternyata sama aja. kelas lagi, belajar lagi, tugas lagi, ngejar-ngejar dosen lagi, ngerjain tugas 10 menit sebelum masuk kelas lagi, telat masuk kelas lagi, cabut ke kantin pas jam mata kuliah lagi, ketemu dosen killer lagi, ya semua yang berhubungan dengan kampus deh, bedanya paling makin sedikit muka-muka yang gue kenal dan makin bermunculan maba-maba yang lagi asik-asiknya menjalani dunia perkuliahan dengan binder barunya, penampilan yang kaya nge-mall, wangi semerbak parfum yang gue kira ngabisin satu botol seminggu, dandanan yang wow biar dilirik senior. kehidupan maba yang pernah gue lewati, ya mereka belum sadar mungkin kalo kuliah gak seasik di ftv-ftv, rasanya sekarang ke kampus itu hanya rutinitas.

ini yang saat liburan pernah gue keluhkan ke pacar gue yang notabenenya alumni, dengan kata lain dia udah gak ada dikampus, dia udah di dunia barunya. "gue jadi ngerasa single fighter dikampus, temen kaya udah kalo ada kepentingan aja, kalo gak jeda kelasnya bareng ya sekelas atau cuma buat ngerjain tugas bareng" itu yang gue rasaain sekarang, disaat dulu kita berenam satu kelas terus lama-lama gue mencar karna gue mengikuti suatu UKM yang sedikit menyita waktu, belum lagi sosialisasi sama anak-anak UKM, makin kesini main jarang gue satu kelas apalagi konsentrasi yang gue ambil beda sama temen-temen yang lain.

sendiri, hal yang paling gue takutin...

ada yang bilang, disaat kita punya satu botol air dan banyak gelas, kita bisa mengisinya tapi gak akan bisa penuh tapi semakin sedikit gelasnya maka akan semakin penuh, itu juga terjadi pada teman, gue merasa punya banyak kenalan tapi gue gak tau apa-apa tentang dia, kalo nanya disangka kepo, gak nanya malah awkward, serba salah.

yah itulah dunia perkampusan... we born alone, we live alone then we die alone...

27 Agustus 2013

biasa-nya


Witing tresna jalaran saka kulina.


Cinta datang karena terbiasa, biasa, membiasakan atau memang dibiasakan karna kehidupan yang sengaja di setting monoton?

Contoh kecil, dulu gue gak suka lama-lama di sekret KMK, tau aja enggak, eh sekarang gak afdol gitu kalo belum kesana kalo lagi dikampus. Atau dulu gue keseringan dirumah sampe-sampe gak mandi kalo gak keluar, mulai kesini gue mulai sering keluar jadi mandi terus, kalo lagi dirumah pun gue sempet-sempetin mandi soalnya gak betah kalo belum mandi. Terbiasa.

Sampe ada seseorang yang bertanya “kamu gak bisa ya ditinggal sebentar aja?” sebentar dalam konteks bukan 5 menit, bukan 30 menit, tapi mungkin berjam-jam atau berhari-hari. Kalo secara rasional jawabannya pasti bisalah, buktinya, satu tahun empat bulan yang lalu semuanya baik-baik aja. Tapi balik lagi, sekarang ya sekarang, sekarang bukan dulu, terlalu banyak  yang gue alami selama satu tahun. Gue gak nyalahin siapa-siapa hanya saja mungkin gue sudah terbiasa, terbiasa di protect, terbiasa melihat dan merasakan secara fisik, terbiasa dengan orang lain yang bisa bikin gue nyaman selain diri gue sendiri, terbiasa dan terbiasa dengan situasi dan kondisinya, terbiasa dan akhirnya gue mengambil sebuah kesimpulan bahwa ini hidup gue dengan semua partikel-partikel didalamnya yang lagi-lagi terbiasa bersama gue hampir 24 jam x 7 hari selama seminggu dan 4 minggu dalam sebulan dan mungkin 12 bulan dalam setahun. Sampe pertanyaan itu datang dan ... 
iya juga ya, semua yang hadir di kehidupan lo bukan berarti mereka tergabung dalam kehidupan lo, ribet ya? Ya maknanya, gak semua yang ada sama lo itu milik lo, kaya nyawa lo, itu ada di badan lo tapi tetep kan itu punya Tuhan, bukan elo, ya seperti itulah.


Lagi lagi hal yang gue anggap biasa ternyata udah mulai menjadi comfort zone gue, dan disaat gue baru sadar dan menikmati semuanya, saat itu harus menjadi titik balik, menarik diri dari comfort zone dan mulai membiasakan kembali kebiasaan lama, kembali pada teman-teman.
Kalo dipikir-pikir udah lama juga ya gue terfokuskan pada satu titik, hanya melihat pada satu titik, emang kaca mobil paling besar di depan supaya kita bisa terfokus dengan perjalanan di depan kita, tapi pengendara butuh juga kan spion kanan kiri tengah, dan kaca-kaca disetiap pintu kan? Mungkin gue terlalu melihat kedepan, dan hampir lupa menengok ke samping-samping. Hampir lupa kalo gue punya cukup banyak, gak gak banyak, ya cukup kaca-kaca lain. Dan saat gue harus keluar dari zona nyaman gue, ya merekalah yang gue tuju. Karna titik fokus gue pun punya lebih banyak kaca-kaca yang harus dia perhatikan, gak selalu dan terus bisa menatap balik gue.

Bukannya Practice makes perfect ? satu-satunya jalan ya berlatih, walau dalam latihan pasti ada kepleset-keplesetnya, jatoh-jatohnya, lagi-lagi gak ada yang semulus rabutnya Anggun dan Rossa di iklan shampo panteen. Semoga, menjadi terbiasa lagi.



JANGAN JADIIN KATA ‘BIASANYA KAN’ ATAU ‘UDAH KEBIASAAN’ ITU SEBUAH ALIBI...




I miss you everytime you leave, even a second ago but I know you had ‘must to do’ things outside there
and me too, 
I should to grow up and accept it. 

Independence J










Nb: Apa  gunanya alat komunikasi kalo komunikasi harus secara face to face terus, asik dah 
*ngiris bawang bombay*

'simple things'


Pernah gak lo punya harapan konyol yang dateng gitu aja? Kaya tiba-tiba mau ke pasar malem atau tiba-tiba mau makan jajanan SD, atau hal konyol dan sepele lainnya. Kaya gue dulu pernah punya harapan yang gue bilang bener-bener gak mutu, gue mau french fries, sepele kan? Tapi bukan sembarang french fries, gue mau french fries itu digoreng oleh seseorang, dan gak boleh yang lain.

Hal seperti itu datang lagi, yap gue bersyukur banget karna orang yang selalu menjadi 'tumbal' dari keinginan keinginan gue yang kurang masuk akal tetap bertahan dan gak kabur. Thanks God for him!

Kali ini datang dengan caranya yang sedikit berbeda. Bisa dibilang ini keinginan setiap cewek, gak ngerti kenapa cewek bisa suka mungkin itu salah satu cara untuk merasa diakui, dihargai dan dibanggakan, mungkin loh ya. Bisa dibilang udah agak lama gue menginginkan itu tapi gue selalu berdalih, "ah sepele", "ah apa gunanya", "ah gitu doang", "ah apa arti dari sebuah gambar" tapi emang dasar cewek kali ya yang selalu gak mau kalah sama cewek-cewek lain, terbawa lah gue di satu kondisi dimana hampir semua Recent Update memperlihatkan itu, hampir seluruh timeline menjadi wadah itu, gue masih berdalih "ah itu sepele, gue dapet kesempatan lebih yang kalian gak dapet" tapi entah setan apa yang nyambet gue sampe gue berfikir "karna itu sepele dan simple kenapa sampe gak bisa?"

Bener, cewek terlalu memikirkan hal-hal kecil sampe mereka dibilang suka nyari kesalahan orang, padahal bukan itu point nya.

Tahun ini, tahun terakhir gue sebagai teenager, tahun depan gue bakal menyandang kepala dua, dan itu yang ngebuat gue berusaha mejadi cewek seutuhnya, kaya gue mulai berusaha bersahabat dengan dapur, membersihkan dan merapikan barang barang dan kamar gue, kenalan sama make up, wedges, heels atau benda benda ke-cewek-an lainnya. Dan mungkin itu juga yang ngebuat gue semakin cewek dalam hal emosional, atau mungkin itu sisa-sisa ke'teenager'an gue. Emang susah ngambil titik tengah dari perbedaan pola pikir usia, kegemaran, karakteristik, atau apalah itu, dan emang disini gue lah yang dituntut berjalan maju karna waktu pun tetap maju, gak mungkin seseorang berjalan mundur karna waktu berjalan mundur, gak ada yang bisa ngelawan arus waktu (at least lo punya mesin waktu).

Kalo kata anak paskibra sih "Kalo lo tau lo salah pas langkah tegap maju, atau lo ketinggalan, ya lo harus DOUBLE STEP jangan stuck di posisi lo" ya double step disetiap langkah yang diambil, tapi jika gue ditugaskan sebagai pasukan pembawa bendera, gak mungkin kan gue double step terus sampe gue berada di pasukan pengiring bendera yang ada berjarak sedikit jauh dari pasukan pembawa bendera?

Jadi ya... ya... ya...
Ya gue gak bisa ngasih pembenaran atau pembelaan...





Cuma hasrat terpendam seorang gadis

13 Agustus 2013

bukan cita-cita, cuma keinginan yang diharapkan dan diusahakan menjadi kenyataan


Radio itu salah satu tempat dimana kita bisa mendapatkan info, berita, news atau update-an terbaru, please jangan bilang gue kuno atau ketinggalan jaman, karna emang gue lebih suka denger radio daripada nonton tv atau streaming atau youtube-ing atau apalah itu. Tepat tadi malam gue juga mendengarkan radio kesayangan gue sambil main game di sibiru kecil milik gue ini, dan ternyata sang penyiar bilang kalo lewat tengah malam saat itu sekitar jam 12 sampai jam 3 dini hari akan terjadi puncak hujan meteor Perseids dan bisa disaksikan dengan mata telanjang di langit malam, kalo cerah.

Hujan Meteor...

Udah 19 tahun gue hidup, tapi belum sekali pun gue pernah liat hujan meteor atau yang sering dikenal sebagai Bintang Jatuh. Tadinya gue berniat naik kelantai atas, duduk diubin trus mendongak ke langit dan nunggu meteor-meteor itu lewat di balkon rumah gue, kaya cover meteor garden gitu, tapiiiii berhubung gue agak penakut, agak loh ya bukan penakut banget, jadi gue mulai nge-bbm seorang ya bisa dikatakan sangat spesial, maksud hati sih pengen ditemenin bbm-an sambil nunggu hujan meteor gitu, selain ngurangin rasa takut kan seru aja, walaupun pasti lebih seru kalo dia ada secara fisik trus bareng-bareng liat hujan meteor itu deh sambil make a wish bareng, lagi-lagi kenyataan gak berjalan sesuai keinginan, yap dia sudah mau bergegas tidur karna emang kondisi badan yang agak drop ditambah paginya dia akan ada urusan. Gagal lah sudah menyaksikan hujan meteor yang langka itu.


Make a wish...

Itu yang hampir dilakukan semua orang saat ketemu momen-momen penting, such a like waktu niup lilin pas ulang tahun, saat melihat jam yang angkanya kembar, saat ngomong samaan dan barengan, saat ada bulu mata rontok, saat gigi susu tanggal, ya pokoknya saat-saat yang gak biasa, salah satunya saat ngeliat bintang jatuh.

Kenapa harus disaat-saat seperti itu padahal disetiap doa kita bisa menyebutkan permohonan kita kan? Mungkin karna setiap orang itu diciptakan labil fleksibel, dan kefleksibelan itu yang bikin kita mengundur atau melupakan keinginan-keinginan kita yang lama dan memohon dengan keinginan yang baru (kaya gue yang dulu pengen banget galaxy tab yang 10 inch, berubah jadi mau samsung grand yang Cuma 5 inch. Atau kaya gue yang dulu pengen banget liburan berbulan-bulan, tapi sekarang malah pengen cepet-cepet kuliah), dan mungkin di moment-moment special itu kita berharap permohonan lama kita yang mungkin udah kita lupa tetap terwujud.


Ngomong-ngomong permohonan lama, gue jadi inget tentang cita-cita. Apa sih cita-cita gue?

Gatau...


Pas TK gue pengen banget jadi dokter, ngeliat dokter itu kaya ngeliat malaikat. Semakin gede semakin gue mengurungkan niat gue which is gue takut darah, dan gue rada sentimen sama jarum suntik. Pas SD gue pengen banget jadi guru, bukan apa-apa, gue mau bales perlakuan guru-guru yang demen banget ngasih tugaslah, PR lah, ulanganlah yang susah-susah, gue mau ngerasain jadi mereka. Eh naik ke SMP gue malah mau banget jadi Psikolog, ngeliat mereka kayanya adem trus kayanya bijaksana banget dan mereka tau karakteristik orang-orang disekeliling mereka, lagipula semuanya kan berdasarkan psikologi seseorang, tapi entah kenapa gue mulai diarahkan menuju ekonomi,  gue masuk sekolah kejuruan bisnis dan manajemen, mengambil jurusan akuntansi dan melanjutkan ke perguruan tinggi ekonomi dengan jurusan yang sama, akuntansi. Dan apa cita-cita gue sekarang?

Bisa dibilang visi gue kaya kertas buram matematika yang dipake Cuma buat gambar-gambar gak jelas biar gak kosong gitu aja, gak jelas profesi apa yang benar-benar gue idam-idamkan.


Berfikir


Merenung


Semedi


Ngopi


Mandi


Bengong



Dan ternyata yang sekarang jadi cita-cita gue bukanlah profesi, sekarang loh ya, gue gak tau 3 sampai 5 tahun kedepan. 
Yang pasti cita-cita gue, gue mau lulus tepat waktu dengan IPK standard bersaing atau lebih, mengambil gelar profesi dan apapun yang bisa menambah nilai kualifikasi gue, bekerja disebuah perusahaan swasta dengan posisi yang lumayan lah setidaknya bisa untuk menghidupi diri gue sendiri dan nyokap gue. Mungkin itu cita-cita terdekat, setelah bekerja dan  menabung apa? banyak, gue mau holiday, gue mau shopping, gue mau invest ini itu, gue mau punya salon sama spa kaya sally, gue mau punya resto sama hotel kaya dash, gue mau punya peternakan dan desa kaya harvest moon, gue mau punya banyak rumah kaya the sims.

Setelah gue lebih matang lagi mungkin cita-cita gue kemudian mendirikan sebuah Gereja kecil. Gak, gak, gue gak bakal bikin ajaran baru, gue gak mau dipanggil Ega Eden, maksud gue sebuah keluarga kecil yang harmonis, dengan laki-laki yang dipilihkan Kristus buat gue, laki-laki yang matang dalam iman dan bijaksana dalam dunia, laki-laki yang akan menjadi cerminan Kristus untuk ega-ega kecil nantinya, menikmati tahun-tahun pertama layaknya orang baru pacaran lagi dan kemudian lahirlah bayi-bayi mungil yang kelak manggil gue mama, ya mungkin itu yang dibilang surga di dunia. Mungkin mereka akan sangat menjengkelkan, ngeselin, dan tidak tau terima kasih, tapi bukan semua anak-anak begitu? Gue juga gitu kok, melihat mereka tumbuh menjadi anak-anak kecil yang menjengkelkan dan teriak-teriak gak jelas, tumbuh menjadi ABG yang gak bisa diatur dan kerjaannya main mulu, jadi Remaja yang pulang malem bahkan gak pulang, dan dewasa, membawa pasangan mereka untuk dikenalkan dan pergi. Dan gue mungkin Cuma bisa duduk di kursi goyang di balkon dengan secangkir teh dan tangan yang udah keriput-keriput gak jelas melihat mereka yang akan pergi kerumah barunya, dan gue kembali tinggal berdua di sebuah rumah mungil yang nyaman.


Ya itu hanya cita-cita, hidup bahagia, sejahtera dan damai. Gak perlu berkelimpahan cukup dengan yang berkecukupan (cukup buat beli mobil sport baru, cukup buat beli rumah baru yang ada lapangan golf nya, cukup buat beli berlian dan logam mulia). Maknanya gue Cuma mau hidup gue berguna bagi orang lain, jadi anak yang dibanggakan orang tua, partner hidup yang bisa berdiri sejajar serta panutan bagi darah daging gue kelak, simple as that. Walau kenyataannya pasti gak sesimple itu, hidup gak semulus pahanya cherry belle atau mukanya super junior, tapi apa salahnya, namanya juga cita-cita.










Nb: bener kata Alice Cullen tentang pengelihatan masa depannya, masa depan akan selalu berubah tergantung pada keputusan apa yang akan kita ambil dan pilihan mana yang akan kita tinggalkan

Banyak juga kata mungkin diatas ya... namanya juga belum kejadian, masih mungkin

12 Agustus 2013

whats wrong with tears?


“Bisa gak sih cewek nyelesain masalah tanpa nangis?” tanya Adit sedikit membentak Tita disuatu malam yang romantis di Paris saat Tita hanya bisa duduk menangis tanpa berbuat apa-apa.



Itu bukan karya tulis gue, bukan juga khayalan gue, itu sebuah cuplikan kecil film drama yang udah cukup lama, sekitar tahun 2003-an lah ya, Eiffle I’m In Love. Pasti pada tau film itu kan ya, film yang cukup booming setelah Ada Apa Dengan Cinta. Gak, gue gak akan bahas seputar film drama Indonesia dengan slow motion-nya atau dengan mata yang dipaksa dibelo-beloin, dan pemeran lain sibuk netesin tetes air mata ke matanya biar keliatan lembab dan nangis-nangis bombay, kenapa gak sekalian tempelin aja irisan bawang bombay ke matanya.



Skip Skip Skip...



Balik ke pertanyaan Adit diatas, gak muna dan gak sok kuat, mungkin gue salah satu tipe cewek seperti itu, tapi itu sama aja kaya pertanyaan, “Bisa gak sih cowok nyelesain masalah tanpa emosi dan otot?” atau “Bisa gak sih anak kecil meminta sesuatu tanpa merengek dan mengeluarkan jurus ngambeknya?”  jawabannya, BISA! tapi susah, naluri mungkin ya, butuh banyak pelatihan dan pengendalian diri agar terbiasa.
Sebenarnya kenapa sih cewek bisa gampang banget nangis?
Ada yang bilang kodrat, ada yang bilang karna cewek lebih menggunakan perasaan dan emosinya dan membelakangkan logika, tapi menurut gue itu Cuma pembenaran supaya cewek bisa leluasa nangis dan meluapkan emosinya tanpa ada yang ditahan-tahan, nahan sesuatu tuh nyesek loh, sama aja kaya nahan kentut atau nahan bersin, mana enak. Coba cowok yang nangis, pasti komentar negatif yang terdengar, “Kok cowok nangis sih, lemah banget, perasaan banget” itulah yang bikin cowok jarang nangis dan meluapkan emosinya ke hal yang lain. Cewek sama cowok yang menahan emosi pasti pada akhirnya akan meluapkan emosinya, Cuma beda cara, yang cewek nangis-nangis kejer sambil meluk bantal, yang satunya lagi nonjok-nonjok tembok atau banting-banting barang, tujuannya apa? ya biar mereka bisa meredakan emosinya setelah diluapkan, setelah tenang barulah mereka bisa berfikir seperti biasa, normal.
Ada yang bilang “Ngapain sih nangis, nangis gak nyelesain masalah” emang nangis gak nyelesain masalah, tapi setidaknya itu memberikan sedikit kelegaan untuk bernafas, liat anak kecil yang abis nangis pasti tidur pules.

So, gue bilang cewek sama cowok sama aja, sama-sama nyari cara untuk meluapkan emosinya, Cuma beda caranya aja. Ada cewek yang lebih seneng marah-marah sambil banting-banting barang, ada juga cowok yang nangis, wait wait gue bilang nangis itu gak Cuma buat cewek, itu tanda lo bener-bener hidup, bener-bener manusia dan punya perasaan, bayi aja yang baru lahir gak mandang dia cewek atau cowok untuk memulai kehidupannya dengan tangisan.

Nah berarti apa yang kita anggap lemah belum tentu kelemahan, dan apa yang kita anggap kuat belum tentu kekuatan, itu tergantung dari sisi mana kita memandangnya. Semua orang diciptakan dengan plus minus nya sendiri seperti magnet-magnet, mereka akan sempurna dan berguna jika plus bertemu minus dan minus bertemu plus, oleh karena itu kita diciptakan untuk saling MELENGKAPI bukan MENDOMINASI.


























Nb: “Berdirilah sejajar, namun jangan terlampau dekat, karena tiang-tiang candi tidak dibangun terlalu rapat. Dan jati serta cemara tidak tumbuh dalam bayangan satu sama lain.” –Kahlil Gibran

30 Juli 2013

babysitter or partner

Sebenernya ini post yang udah cukup lama mengendap di draft laptop gue... no offence, cuma mengungkapkan bagian sendu dari diri gue aja, namanya juga cewek pasti pernah galau, khawatir, melankolis, dan berharap.
gue aja lupa ini kapan gue tulis tapi yang pasti saat kekhawatiran itu ada


Kadang sesuatu lebih mudah untuk dituliskan daripada dikatakan... atau didiamkan sehingga hilang begitu saja

Ada yang bilang kalo seorang gadis yang kehilangan atau kurang mendapat figur seorang ayah akan mencari pasangan yang lebih tua yang dikira lebih dewasa, bukan karna si gadis childish tapi lebih pada ... mungkin si gadis ingin lebih mendapat figur seorang pemimpin atau pelindung, 

tapi hubungan beda pola pikir itu agak sulit, si lelaki dewsa ini harus capek hati dan tenaga untuk memberi tau, membimbing, menuntun, menjaga, bahkan mungkin mendewsakan si gadis ini, bukan hal yang gampang mendoktrin pola pikir seorang cewek yang emang udah terbentuk dari kecil dikarenakan faktor a, b dan c, bahkan ada yang bilang hubungan seperti itu bukan lagi hubungan sepasang kekasih melainkan babysitter, bisa dibayanginkan betapa sulitnya menjadi pihak si pria? 

Tapi bagi pihak si gadis pun bukan perkara yang mudah untuk mengikuti atau mngimbangi si pria yang notabenenya jauh lebih dewasa dalam berfikir, pikiran itu paling fatal dan bikin minder, bagaimana si gadis terlalu bergantung pada si pria, bagaimana si gadis terlalu mengandalkan pasangannya, bagaimana si gadis berusaha mengimbangi pola pikir pasangannya padahal emang belum sampe, bisa jadi perbedaan itu ditambah dengan perbedaan kasta yang ada, mungkin si cowok merupakan orang famous atau yang sangat berpengaruh sementara si cewek udah kaya butiran debu yang ada atau gak ada kehadirannya sama aja ya gak ngaruh, mungkin si cowok don juan yang udah kaya bangke dikerubutin laler sementara si cewek boro-boro ada yang suka ada yang mau satu aja udah sujud syukur banget, atau si cowok itu pinter membahana sementara si cewek harus ngulang matkul yang sama 3x, 


mungkin hal-hal yang dianggap sepele awalnya lama-lama menjadi momok yang besar, inget orang kesandung bukan karna ada batu kali tapi karna batu kerikil kecil yang gak kasat mata kalo gak diperhatiin banget. Jijik, kata itu yang gue inget denger rasa pas buat pasangan seperti ini, si cowok udah mateng, dan berpikir logika, eh yang cewek masih aja ketawa ketiwi galau dan kebawa perasaan. 

Bagi sang cewek. Minder? Pasti. Takut? Iyalah. Khawatir? Bagian dari ketakutan itu sendiri. Gak pede? Bagian dari minder. Menjadi lemah bagian dari diri cewek itu sendiri, yang dibutuhkan sang gadis ya hanya keteguhan hati sang cowok supaya gak give up dan kerajinan si cowok untung mengingatkan dan membimbing, itukan yang dicari dari kedewasaan seseorang, kemampuan untuk memimpin dan membimbing, dan yang dibutuhkan sang cowok hanya rasa berjuang, semangat si cewek untuk terus belajar dan keluar dari zona amannya.

Faktor a, b, atau c itu bukan alasan, kita ngebahas kita bukan faktor, grow up, hidup hidup lo pilihan lo jangan nyalahin orang, tanggung jawab! Gausah sok tegar kalo emang gak tegar! Phsyco!
Thanks...

jangan cape dan bosen ya, keramik aja bisa jadi indah setelah proses yang panjang dan menyakitkan, sama juga kaya pedang dan marmer. Please dont give up on me and always tell me until I can and ready to see the world... please