Postingan

Sarjana Vroooh!

Boleh sombong gak sekali-sekali? Boleh lah ya. FINALLY... GUE S.E !!! Akhirnya ya perjuangan gue belajar 3 tahun di kampus, dan 6 bulan jatuh bangun ngerjain skripsi ditengah lemburan kerjaan yang gak pernah ada habisnya pun selesai. Kata siapa orang yang kuliah sambil kerja sambil brevet gak bisa bener kuliah sama kerjanya? pas jaman semester 7, senin - jumat paginya magang, malemnya kuliah, sabtu - minggunya brevet, tapi saat itu IP gue paling tinggi selama 6 semester, bisa sampe cumlaud malah. Di bulan Juni gue udah kerja beneran, kerja loh bukan kuliah, dan di bulan Oktober gue bisa lulus tanpa revisi, malah dosennya gue sampe WA ngasih tau kalo skripsi gue itu jadi skripsi terbaik dan bakalan dia lanjutin jadi penelitiannya dia, yes, SKRIPSI TERBAIK. Wow. Gue bukan mahasiswa teladan yang jalannya lurus-lurus aja, bukan mahasiswa yang bersahabat sama perpus dan IPK cumlaud atau lulus 3,5 tahun. bukan Gue juga bukan mahasiswa yang " cihuy ", gue ga...

Toples Kehidupan

Seorang profesor berdiri di depan kelas filsafat. Saat kelas dimulai, ia mengambil toples kosong dan mengisinya dengan bola-bola golf hingga penuh, kemudian bertanya kepada para mahasiswaanya,  "Apakah toples sudah penuh?" mereka setuju. Kemudian ia menuangkan batu koral ke dalam toples dan mengguncangnya dengan ringan hingga batu koral itu mengisi tempat yang kosong diantara bola-bola golf tersebut. lalu si profesor bertanya kembali pada mahasiswanya,  "Apakah toples ini sudah penuh?"  mereka setuju. Selanjutnya ia menabur pasir ke dalam toples tersebut, tentu saja pasir itu masih mendapat ruang di toples itu. pasir itu menutupi semua ruang-ruang kecil antara bola golf dan batu koral, lalu profesor itu bertanya lagi, "Apakah toples itu sudah penuh?" "Ya, Prof" jawab mereka serempak hampir bosan. Terakhir, ia menuangkan dua cangkir kopi dari atas mejanya kedalam toples secara acuh tak acuh, dan secara efektif mengisi r...

Harapan

Semua orang butuh harapan. Untuk bertahan hidup, untuk memperjuangkan hidup, semua ada harapan. Sesuatu yang gak bisa dibuktikan secara harafiah, tapi kita mempercayainya. Begitu juga gue, di tahun 2015 ini begitu banyak harapan, mulai yang sudah terwujud, belum terwujud dan tidak terwujud sama sekali. Bisa dibilang dua harapan gue di tahun ini adalah, bisa punya jam tangan lagi dan pergi Gombong untuk nyekar, dan dua-duanya gue lakukan dengan jerih payah gue sendiri, wow! Walau jam tangan bukanlah jam tangan yang mewah yang berharga ratusan ribu hampir jutaan, setidaknya itu cukup lucu, dan walaupun ke kebumen menghabiskan banyak biaya, dan sekalian berlibur ke Jogja, gue gak nyesel, itu seru, asik, perjalanan pertama gue tanpa orangtua atau organisasi, dan bisa dibilang, gue kangen Jogja dimalam hari. Harapan yang belum terjadi tapi gue yakin akan terjadi adalah, gue akan lulus sebagai sarjana tahun ini, punya penghasilan sendiri, kerja kantoran, dan liburan. Gue percaya itu a...
Sekarang pukul 03:58 A.M, beberapa menit yang lalu gue kebangun dan kabar dari HP membuat mood gue makin berantakan. Disaat gue mulai mengalihkan perhatian dengan ‘obat penenang’ dan malah ketagihan untuk beberapa waktu ini, ya untuk beberapa waktu ini gue bisa gak memikirkan apapun, apapun, hal yang paling gue benci sekalipun bisa gue abaikan karna keasikan baru gue, tapi… Setelah gue mati-matian berusaha berenti dari aktivitas yang bikin gue gabisa tidur, gak bisa main game, gabisa makan dan hanya duduk depan youtube, dan gue bertekad kembali dari pelarian gue itu… hal itu datang lagi, hal yang paling gue takuti hingga gue benci, dan tak seorangpun bisa menaha gue mengkhawatirkan itu. FCK!        Terkadang kita mati-matian melanggar janji yang kita buat pada yang lain hanya untuk satu orang spesial yang mati-matian mempertahankan janjinya pada yang lain. terkadang hidup bisa seaneh dan setidak adil itu. Tapi siapa yang menyuruh kit...

Dia, kembali lagi...

Segala sesuatu yang kita tinggalkan dibelakang bisa saja sewaktu waktu datang menghampiri kita lagi, karna kita punya jejak, jejak yang bisa ia ikuti.  Sama kaya gue yang bilang “Orang kaya lo bisa berubah? Sifat bisa berubah seiring kedewasaan lo, tapi naluri gak bakal bisa diubah. Kalo udah naluri player ya player aja” ke seseorang 8-9 tahun lalu, dan ternyata dia berubah 2 tahun kemudian, tapi saat tahun 2010 gue ketemu dia lagi, emang nasib gue jelek sama dia, dia sama sekali gak berubah sekeras apapun ia berusaha, ia pasti kembali ke nalurinya. Sama aja kaya beberapa hari ini banyak yang nanya, “Kok lo jadi suka nonton korea sih?” , “Kok lo tidur pagi, bangun sore mulu sih?” , “Kok lo betah dirumah mulu sih? Bukannya lo paling gak betahan” ya banyak lah yang nanya ini itu. Gue Cuma mau bilang, inilah gue dengan zona nyaman gue. Kalo lo semua tau masa kecil gue, gue dulu sangat menyukai berbagai macam jenis film, film cartoon, film action, film drama, film horror dan comedy...
Hai hai kita berjumpa lagi nih, ya map ya namanya juga pengangguran jadi terlalu banyak waktu luang kan, tapi please jangan tanya tentang skripsi gue, dia lagi gak mau diganggu, mungkin lagi ada masalah pribadi jadi gue berbesar hati untung meninggalkan dia sendiri dulu, lo tau kan setiap orang kalo lagi ada masalah butuh ditingal sendiri dulu.. Gak, gue lagi gak ada masalah, lebih tepatnya sedang berlatih mengontrol emosi, mungkin itu yang orang-orang dewasa lakukan, walaupun hancur harus tetap tersenyum, walaupun marah dan berapi-api harus tetap dingin. Dulu sih gue jagonya kalo disuruh mendem emosi, mendem ya bukan mengendalikan. Semua gue pendem sampai disatu titik yang gak gue kuat dan keluar semua,  rasa sakit, sedih dan marah, tapi seringkali gue salah melimpahkannya, untung aja orang-orang disekitar gue sangat cukup mengerti gue. Sampai akhirnya gue iri dengan orang-orang yang bisa dengan gampang mengeluarkan isi hatinya, mereka yang spontanitas, mereka yang tampa tid...

everybody has a secret, respect that

Rahasia… Sekali lagi ini bukan karna gue keseringan nonton  film fiksi yang harus merahasiakan jati dirinya sendiri, ini tentang kehidupan nyata. Sebagai manusia pasti lo punya rahasia kan? Pasti! Entah yang lo simpen bersama teman-teman terdekat lo atau yang lo simpan dengan baik sendiri. Gue tipe orang yang sangat teramat sulit menjaga rahasia sendiri, gue biasanya berbagi dengan teman terdekat atau orang yang paling gue percaya. Dulu, gue sangat merahasiakan tentang background keluarga gue, sampai akhirnya gue menceritakan pada orang yang sangat paling gue percaya banget sekitar 2,5 tahun yang lalu. Kenapa gue rahasiakan? Karna gue malu untuk mengakuinya, tapi dengan dia, orang yang paling gue percaya, gak ada lagi rasa malu itu, karna gue menganggap dia akan menerima gue apa adanya. Ada juga beberapa rahasia-rahasia kecil yang hanya gue ceritakan pada temen-temen satu geng, bagaimana tingkah bodoh gue saat galau, saat di pdkt-in gebetan, saat di cengin di dalam kelas k...